Hi :)

This blog is the outpouring of my heart, I like writing , but maybe not one of my dreams to become a writer.
I just follow my heart in writing something, I feel free without burden in my heart

Senin, 23 Mei 2011

Do Something or Do Nothing ??



By : Khatarine Michelle

Suatu hari guruku bertanya.
Guruku : "iklan apa yang menurut kalian menarik?"
Aku : "iklan iklan makanan miss!"
Artha : "iklan sampo, miss!"
Aku : "Kalo menurut miss sendiri ?"
Guruku : "Kalo menurut miss, iklan Rokok!"
Aku dan teman sekelasku : waaaa .....????!!


Malam itu hujan turun sangat deras. aku masih saja terpaku di depan TV menonton FTV yang tayang agak tengah malam. ketika sedang asik-asiknya menonton, FTV nya terpotong oleh iklan. (hufft kesalnya) . namun aku tetap menatap kosong iklan-iklan dengan wajah artis yang sedang naik daun (pada saat itu). mataku hampir saja terpejam ketika suara salah satu iklan rokok terkenal mengganggu telingaku, aku yang tadinya hampir terpejam kini duduk manis sambil menyimak iklan tersebut. yang membuat aku tertarik adalah di iklan itu terjadi kebocoran air. semua orang yang ada di ruangan itu telah melakukan sesuatu agar kebocoran itu tidak semakin memenuhi gedung itu sehingga tidak terjadi banjir, sedangkan salah seorang pria hanya memegang telepon untuk menyuruh orang lain membersihkan dan memperbaiki kebocoran itu. Kobocoran itu semakin menggenangi ruangan itu menyebabkan air semakin meninggi dan dia terjebak sendiri di dalam nya. Aku berkata dalam hati "Iklan ini ternyata memiliki makna yang sangat luar biaassa! Ini semua tentang Do nothing or Do something, DO NOTHING tidak benar tentang tidak melakukan apa-apa karena tidak mungkin untuk benar-benar tidak melakukan apa-apa. setiap pekerjaan yang kita lakukan pasti berguna. hanya kita sendirilah yang dapat menentukan puas atau tidak dalam mengerjakan sesuatu. melakukan sesuatu berarti mengajari diri kita sendiri untuk mandiri dan BERGUNA! melakukan sesuatu membuat diri kita memperoleh suatu pengalaman, pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga dalam hidup dan tentu saja kita menemukan pengalaman itu ketika kita MELAKUKAN SESUATU itu sendiri ! " aku tersenyum sendiri dan tiba-tiba saja aku mengingat Guruku. mengapa dia lebih tertarik pada iklan rokok ? yah tentu saja karena iklan itu bukan hanya untuk menjual produk dan tampang semata, tetapi memberikan pesan dan kesan menarik pada saat melihatnya.

Haha......
Mungkin kita tidak bisa melakukan segalanya tetapi kita bisa MELAKUKAN SESUATU, bukan?

Sabtu, 21 Mei 2011

No idea -____-


Malam ini tidak ada satu pun ide yang melintas di otakku. aku mungkin hanya akan memaksa otakku untuk mengingat kejadian-kejadian yang masih tersimpan baik di memori penyimpanannya itu (haha). Hari ini hari sabtu. namun beberapa menit lagi akan berubah menjadi hari minggu (WHATEVER-_-)..
Sebentar lagi adalah masa SMA ku :) , banyak yang bilang bahwa SMA adalah masa yang puallingg indah#benergaksih?. aku sering kali bertanya pada diriku, apakah masa SMA ku seindah yang banyak orang bilang? tapi apapun itu aku harus tetap menjalaninya dengan bahagia. "PACARAN" haha.. itu mungkin salah satu yang mereka katakan "saat paling indah" .
Haha... tapi jujur saja aku belum pernah yang ngalamin kaya gituan.. dan kalo membahas soal itu, aku hanya bisa tertawa dalam hati "CINTA ?? wkwkwk" . Haha.. aku teringat , saat ini aku sedang taruhan "siapa yang paling kuat begadang" haha.. dan mempertaruhkan sebuah es krim yang sudah tak asing lagi dengan rasa yang spesial dengan harga yang spesial pula :D.

Jumat, 20 Mei 2011

Pengalaman sepulang sekolah

H

ari yang cerah. Siang itu aku dan dua orang teman akrabku, Sarah dan Desy bersama-sama pulang dari sekolah yang dipadati siswa lain yang juga akan pulang. waktu menunjukan kira-kira pukul 12.45 WIB. “Kita pulang nya naik angkot nggak, ya?”Tanyaku sembari merapikan buku-bukuku ke dalam tas. “Ah.. tak usahlah, lebih baik kita jalan kaki saja, kan lebih menghemat uang saku!”kata Desy yang sudah bersiap-siap dengan ranselnya. Sarah datang menghampiri kami setengah berlari. “Hey, yuk pulang!” serunya.

Ketika kami bergegas pergi meninggalkan kelas, Jelita memanggil kami dari tempat yang tidak jauh dari kami. “Hai teman-teman, kami berencana akan ke rumah Nurjannah sekarang. Kalian ikut ya? Ibunya baru membuatkan kue yang enak lho!”Kata Jelita. “Gimana nih, teman-teman? Kita ikut tidak?” Tanya Sarah. “Kita pulang sajalah, aku sedang tidak ingin ikut.”Jawabku. Desy pun sependapat. “Ya sudah kalau tidak mau ikut.”kata Jelita. Ia bersama teman-temannya yang lain segera berangkat ke rumah Nurjannah. Kami juga melanjutkan perjalanan pulang kami.

Di tengah perjalanan kami bercanda dan tertawa juga bermain tebak-tebakan. “Hayoo, coba tebak! Gigi apa yang rajin sarapan?”Tanya Desy dengan wajah lucu. “haha, itu pasti gigi susu!” seruku. Kami pun melanjutkan perjalanan walau siang itu panas terik membakar kulit.

Kami berjalan dengan santai di antara kerumunan siswa-siswi dari sekolah lain dengan tujuan yang berbeda-beda. Aku dan Sarah sedang asik mengobrol, sementara Desy sepertinya memperhatikan seseorang anak perempuan di depan kami. “Hey lihat! Sepertinya anak itu sedang kurang sehat,lihat saja langkahnya yang ertatih-tatih.”kata Desy memperhatikan anak perempuan yang sepertinya sebaya dengan kami. Benar saja, anak itu hampir terjatuh di tengah trotoar. Kami pun segera menolongnya. Kami membantunya berdiri dan berjalan. “Kamu kenapa?kamu sedang sakit?” Tanya Sarah dengan wajah cemas. “Aku tidak apa-apa, hanya saja kepalaku sakit sekali!” seru anak itu memegangi kepalanya. “Kita cari tempat duduk dulu, supaya dia bisa beristirahat sejenak.” Saranku. Kami segera berjalan ke arah toko kue yang tidak jauh dari situ.

Tiba di depan toko, kami segera membantunya untuk duduk di kursi panjang tepat di depan toko. “Rumahmu di mana?” Tanya Desy. Anak itu memberitahu alamat rumahnya pada kami. Dan ternyata rumahnya agak jauh juga dari tempat kami sekarang. “Saya bisa pulang sendiri kok!” Jawabnya lirih. “Wah, jangan! Nanti kamu bisa pingsan di tengah jalan.” Kata Desy. “Kalau begitu tunggu di sini sebentar, aku dan Sarah pergi ke rumahku dulu. Kebetulan nggak jauh dari sini, kami mau ngambil uang dan air minum untuknya.” Kataku. Aku dan Sarah berlari ke rumah ku. Sementara Desy menemani anak itu yang belakangan kami tau namanya adalah Riana.

Aku mengambil air botol minuman ,persediaan uang dan minyak kayu putih. Kami kembali ke toko tadi dan memberi Riana minum. Setelah agak mendingan, kami akan mengantarnya ke rumahnya. Kami menunggu kendaraan becak, karena jarang ada angkot yang mengantar sampai ke lingkungan tempat tinggalnya. Akhirnya ada becak yang mengantar kami ke sana. Di tengah perjalanan kami berbincang-bincang dengan anak itu. Ternyata dia merupakan anak dari wali kelas kami. pada saat itu kami duduk di kelas VIII. “Riana, kamu tadi pagi sarapan, tidak?” Tanyaku. “Dia hanya menggeleng. Kami memandangnya dengan perasaan sedih dan juga panik, baru kali ini kami menolong seorang anak yang sebelumnya belum kami kenal. “Kenapa kamu tidak sarapan?” Tanyaku. “Tadi aku buru-buru, jadi tidak sarapan!” katanya. “kamu ini ceroboh sekali.” Kata Desy.

Kami sampai di lingkungan rumah nya, namun dia sepertinya agak kebingungan mau berhenti di mana. “aku berhenti di sni saja!” ujarnya. “sebaiknya kita berhenti di depan rumahmu saja, dari pada kamu nanti lelah berjalan!” kata Sarah. Tukang becak itu memperhatikan Riana. “Saya kenal dengan anak ini, rumahnya tidak jauh lagi dari sini!” Katanya. Kami agak lega karena kami pun tidak tahu betul di mana rumah anak dari wali kelas kami itu. “Kalau begitu antar sampai rumahnya saja, pak!” Seru Desy.

Kami berhenti di dalam sebuah gang, tepat di depan rumah bercat putih. “Oh, ini rumahnya!” kataku dalam hati. Kami mengantar Riana ke dalam rumahnya. “Tunggu sebentar ya, pak!” kata Desy pada tukang becak tersebut.

“Ma… !” panggil Riana dari pintu sembari membuka sepatunya. Ibunya datang dari dapur. “Kamu kenapa Ria?” Tanya ibunya. Riana pun menceritakan kejadian tadi pada ibunya. Tanpa berlama-lama kami pamit dari rumahnya. “Ini, untuk ongkos kalian pulang!” kata ibu Riana menyodorkan uang sepuluh ribuan. “Oh, tidah usah, bu!” kataku. “Ya sudah, terimakasih ya, nak!” kata ibu Riana. Kami tersenyum. Segera kami pamit dan menaiki becak yang tadi.

“Untung saja kita tidak jadi ke rumah Nurjannah ya! Kalau tidak kasihan sekali si Riana itu jalan sendiri dengan kondisi kurang sehat!” kata Sarah. “iya, aku tadi sudah curiga dengan gerak-gerinya, seperti sedang sakit!” kata Desy. “aku baru tau dia anak wali kelas kita, tapi tadi kita tidak bertemu dengan bapak itu.” Kataku. “Mungkin bapak itu masih ada urusan di sekolah!” kata Sarah. “Mungkin saja kita sudah di takdirkan sebagai dewi penyelamat!” kata Desy. “Haha, ada-ada saja kamu, Des!” ujarku.

Tak lama kemudian kami berhenti di depan rumahku. Aku membayar ongkos becak. Desy dan Sarah segera pulang ke rumahnya masing-masing. Kejadian itu merupakan pengalaman baru untuk kami bertiga yang masih saya ingat sampai saat ini.