
By : Khatarine Michelle
H |
ari yang cerah. Siang itu aku dan dua orang teman akrabku, Sarah dan Desy bersama-sama pulang dari sekolah yang dipadati siswa lain yang juga akan pulang. waktu menunjukan kira-kira pukul 12.45 WIB. “Kita pulang nya naik angkot nggak, ya?”Tanyaku sembari merapikan buku-bukuku ke dalam tas. “Ah.. tak usahlah, lebih baik kita jalan kaki saja,
Ketika kami bergegas pergi meninggalkan kelas, Jelita memanggil kami dari tempat yang tidak jauh dari kami. “Hai teman-teman, kami berencana akan ke rumah Nurjannah sekarang. Kalian ikut ya? Ibunya baru membuatkan kue yang enak lho!”Kata Jelita. “Gimana nih, teman-teman? Kita ikut tidak?” Tanya Sarah. “Kita pulang sajalah, aku sedang tidak ingin ikut.”Jawabku. Desy pun sependapat. “Ya sudah kalau tidak mau ikut.”kata Jelita. Ia bersama teman-temannya yang lain segera berangkat ke rumah Nurjannah. Kami juga melanjutkan perjalanan pulang kami.
Di tengah perjalanan kami bercanda dan tertawa juga bermain tebak-tebakan. “Hayoo, coba tebak! Gigi apa yang rajin sarapan?”Tanya Desy dengan wajah lucu. “haha, itu pasti gigi susu!” seruku. Kami pun melanjutkan perjalanan walau siang itu panas terik membakar kulit.
Kami berjalan dengan santai di antara kerumunan siswa-siswi dari sekolah lain dengan tujuan yang berbeda-beda. Aku dan Sarah sedang asik mengobrol, sementara Desy sepertinya memperhatikan seseorang anak perempuan di depan kami. “Hey lihat! Sepertinya anak itu sedang kurang sehat,lihat saja langkahnya yang ertatih-tatih.”kata Desy memperhatikan anak perempuan yang sepertinya sebaya dengan kami. Benar saja, anak itu hampir terjatuh di tengah trotoar. Kami pun segera menolongnya. Kami membantunya berdiri dan berjalan. “Kamu kenapa?kamu sedang sakit?” Tanya Sarah dengan wajah cemas. “Aku tidak apa-apa, hanya saja kepalaku sakit sekali!” seru anak itu memegangi kepalanya. “Kita cari tempat duduk dulu, supaya dia bisa beristirahat sejenak.” Saranku. Kami segera berjalan ke arah toko kue yang tidak jauh dari situ.
Tiba di depan toko, kami segera membantunya untuk duduk di kursi panjang tepat di depan toko. “Rumahmu di mana?” Tanya Desy. Anak itu memberitahu alamat rumahnya pada kami. Dan ternyata rumahnya agak jauh juga dari tempat kami sekarang. “Saya bisa pulang sendiri kok!” Jawabnya lirih. “Wah, jangan! Nanti kamu bisa pingsan di tengah jalan.” Kata Desy. “Kalau begitu tunggu di sini sebentar, aku dan Sarah pergi ke rumahku dulu. Kebetulan nggak jauh dari sini, kami mau ngambil uang dan air minum untuknya.” Kataku. Aku dan Sarah berlari ke rumah ku. Sementara Desy menemani anak itu yang belakangan kami tau namanya adalah Riana.
Aku mengambil air botol minuman ,persediaan uang dan minyak kayu putih. Kami kembali ke toko tadi dan memberi Riana minum. Setelah agak mendingan, kami akan mengantarnya ke rumahnya. Kami menunggu kendaraan becak, karena jarang ada angkot yang mengantar sampai ke lingkungan tempat tinggalnya. Akhirnya ada becak yang mengantar kami ke
Kami sampai di lingkungan rumah nya, namun dia sepertinya agak kebingungan mau berhenti di mana. “aku berhenti di sni saja!” ujarnya. “sebaiknya kita berhenti di depan rumahmu saja, dari pada kamu nanti lelah berjalan!” kata Sarah. Tukang becak itu memperhatikan Riana. “Saya kenal dengan anak ini, rumahnya tidak jauh lagi dari sini!” Katanya. Kami agak lega karena kami pun tidak tahu betul di mana rumah anak dari wali kelas kami itu. “Kalau begitu antar sampai rumahnya saja, pak!” Seru Desy.
Kami berhenti di dalam sebuah gang, tepat di depan rumah bercat putih. “Oh, ini rumahnya!” kataku dalam hati. Kami mengantar Riana ke dalam rumahnya. “Tunggu sebentar ya, pak!” kata Desy pada tukang becak tersebut.
“Ma… !” panggil Riana dari pintu sembari membuka sepatunya. Ibunya datang dari dapur. “Kamu kenapa Ria?” Tanya ibunya. Riana pun menceritakan kejadian tadi pada ibunya. Tanpa berlama-lama kami pamit dari rumahnya. “Ini, untuk ongkos kalian pulang!” kata ibu Riana menyodorkan uang sepuluh ribuan. “Oh, tidah usah, bu!” kataku. “Ya sudah, terimakasih ya, nak!” kata ibu Riana. Kami tersenyum. Segera kami pamit dan menaiki becak yang tadi.
“Untung saja kita tidak jadi ke rumah Nurjannah ya! Kalau tidak kasihan sekali si Riana itu jalan sendiri dengan kondisi kurang sehat!” kata Sarah. “iya, aku tadi sudah curiga dengan gerak-gerinya, seperti sedang sakit!” kata Desy. “aku baru tau dia anak wali kelas kita, tapi tadi kita tidak bertemu dengan bapak itu.” Kataku. “Mungkin bapak itu masih ada urusan di sekolah!” kata Sarah. “Mungkin saja kita sudah di takdirkan sebagai dewi penyelamat!” kata Desy. “Haha, ada-ada saja kamu, Des!” ujarku.
Tak lama kemudian kami berhenti di depan rumahku. Aku membayar ongkos becak. Desy dan Sarah segera pulang ke rumahnya masing-masing. Kejadian itu merupakan pengalaman baru untuk kami bertiga yang masih saya ingat sampai saat ini.